tribas

The Thoughts and Talks

Archive for the ‘Kampus’ Category

RSPAD 1970, SOEKARNO…

Posted by Tri Basoeki Soelisvichyanto on January 16, 2008

Tulisan berikut ini saya dapatkan dari alamat di Internet yang entah darimana (lupa addressnya, hanya copy paste textnya saja),

Kisah berikut ini bisa benar bisa juga salah, bisa lengkap bisa juga kurang, namun setidaknya kita bisa menghargai apa yang dilakukan oleh Founding Father Indonesia.
 
Melanjutkan apa yang belum tertuntaskan,
Mengumpulkan apa yang terserak, dan
Menjadi generasi penerusnya yang lebih baik.. amin..

Mohon maaf bila terdapat kesalahan, selamat membaca…

Detik2 terakhir wafatnya Soekarno
—————————————————

Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.

Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.

Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa—dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.

Sang Putera Fajar menunggu waktu.

Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.

“Pak, Pak, ini Ega…” Senyap.

Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.

Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.

Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.

Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno menurun. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.

Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.

“Hatta.., kau di sini..?”

Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.

“Ya, bagaimana keadaanmu, No?”

Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.  Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal.

“Hoe gaat het met jou…?” (Bagaimana keadaanmu?)

Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.

Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.

Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

“No…”

Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.

Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.

Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.

Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.

Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.

—————————————————

Please note: postingan ini tidak merupakan bagian dari politik manapun, semata-mata hanya bersifat untuk mengingatkan kembali anak bangsa kepada Founding Fathernya, terlepas apapun yang menjadi bagian dari masa itu pada masa sekarang – Tribas

Technorati Tags: , , , , ,

Posted in Bandung, Daily-Story, Finance, Heritage, ITB, Indonesia, International, Kampus, Nasional, Nusantara, Sectoral-Setting, Soekarno, Strategy, Study, System, alumni-itb, muhammad-hatta, prosperity, rspad, trade-balance, tragedy, value, world | 6 Comments »

Trade Balance

Posted by Tri Basoeki Soelisvichyanto on January 11, 2008

ABSTRAK

 

Kegagalan dalam suatu perdagangan tidak sepenuhnya terletak pada kekurangan atas pemenuhan instrumen yang dibutuhkan, namun lebih kepada kesalahan pada penetapan strategi yang dijalankan pada saat pelaksanaan perdagangan tersebut. Dalam beberapa hal, strategi tersebut tidak diajarkan melalui pendidikan formal, melainkan diajarkan melalui konsep lapangan (lesson by practice). Permasalahan tiba ketika suatu konsep dari pelaksanaan perdagangan telah menjadi pedoman baku namun hanya dipahami oleh segelintir orang.

Dari pemahaman lebih lanjut atas harga dan nilai, dapat dikembangkan suatu sintesa mengenai pola dan distribusi dari komoditas yang bersifat terbatas yang menguasai hajat hidup orang banyak. Komoditas tersebut biasanya dikenali sebagai komoditas sumberdaya alam yang tidak terbaharukan. Dengan demikian sudut pandang nilai atas “bernilai” dan harga atas “berharga” terhadap suatu komoditas selayaknya dibedakan, walaupun semakin bernilai suatu komoditas maka akan berharga semakin besar.

Trade Balance merupakan suatu sintesa yang masih harus diuji lebih lanjut, walaupun secara faktual menjadi pedoman pelaksanaan suatu perdagangan internasional.

Tulisan lengkap dapat diperoleh dengan cara menghubungi:

PSIK-ITB
Sunken Court W-09
Kampus Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesha no. 10-12, Bandung, Jawa Barat.


Thus next question is: is it possible to Indonesia becoming world satellite?

 

 

Technorati Tags: , , , , , , , , , , ,

Posted in Bisnis, Finance, Heritage, ITB, Indonesia, International, Kampus, Link, Nasional, Nusantara, Sectoral-Setting, Strategy, Study, System, Wirausaha, agama, artis, prosperity, rekayasa, trade, trade-balance, tragedy, value, world | Leave a Comment »

Aku akan selalu mengingatmu

Posted by Tri Basoeki Soelisvichyanto on December 3, 2007

Kau…

Malam itu aku penuh dengan kebimbangan, kebimbangan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Aku harus memutuskan mana yang harus kupilih, semuanya benar, semuanya tidak salah, semuanya sah demi hukum dimata makhluk-Nya dan dihadapan para Rasul-Nya.

Namun bagiku, keputusanku adalah akan tetap tidak fair bagi satu pihak, dan bagaimanapun juga aku sangat menyayangi pihak tersebut. Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi didalam hatiku ini. Aku ini hanyalah seorang manusia biasa…

Satu kalimat yang tidak akan pernah kulupakan

“jangan pernah menengok kebelakang, maju terus bas.. fight for your family”

aku pun mengatakan bahwasanya aku tidak mungkin melupakan masa-masa dimana aku berada pada kondisi terendah dalam hidupku, masa dimana aku hendak memulai menapaki bagian hidupku yang baru.. dan dia datang disaat-saat terakhir menjelang langkah besarku itu dimana aku sangat membutuhkan pertolongan.

“jangan! jangan pernah kita lupakan hal itu. Kalau kita lupa terhadap hal-hal seperti itu berarti kita adalah termasuk orang-orang yang lupa diri”

Terima kasih telah memberikan arti yang begitu besar, lebih dari seorang sahabat, seorang teman, tetapi juga menjadi seorang saudara bagiku…

Bila waktuku tidak sempat untuk membalasmu, yakinlah bahwasanya Allah Ar-Rahman Ar-Rahiim akan senantiasa memonitoring hidup dan kehidupanmu, wahai teman-sahabat-sekaligus saudaraku… Allah akan mencukupimu..

“jangan biarkan mimpi itu menjadi sekedar mimpi…”

kalimat mu yang satu itu pun tidak akan pernah kulupakan…

Kita akan lihat bagaimana akhirnya cerita kita nanti…

===========

O Allah,
O Yang Maha Berkehendak,
O Yang Maha Mulia,
O Yang Maha Menjaga,
O Yang Maha Pengasih,
O Yang CintaNya selalu ku dambakan

aku pintakan kepadaMu
Aku titip makhlukMu yang satu ini… aku percayakan Cintaku padanya kepada Mu untuk selalu Kau Lindungi, Kau Jaga, Kau Sayangi, dan Kau Cintai dia dan keluarganya…

O Muhammad yang cahayanya melingkupi segenap nafasku dan dentuman jantungku,
aku pintakan kepadamu, aku titip pengikutmu yang satu ini beserta keluarganya…

O Allah, O Muhammad,
berikanlah selalu syafaat kepada Saudaraku ini…

Aku sayang padanya…
Aku cinta padanya…
Aku ingin yang terbaik baginya…

Aku jadikan air mata dan tulisan ini (dan mereka yang membaca tulisan ini) sebagai saksinya…

Technorati Tags: , , , ,

Posted in Bandung, Bisnis, Family, Heritage, Home, ITB, Indonesia, Kampus, Keluarga, On-The-Road, Pulsa, Strategy, Teknologi, The Net's, Wirausaha, saudara | 3 Comments »