Ini cerita “lama”, tapi mungkin tidak salah untuk ku bagi pada para pembaca..sekedar untuk menyegarkan hati pembaca dan hati ku…
Beberapa waktu yang lalu aku sedang berkendara mobil di Bandung di dampingi istriku, seperti biasa, kami bertemu pengemis dengan tanpa kedua kaki di Lampu merah Antapani/ Terusan jalan Jakarta…
Seperti biasa, si Fulan ini melemparkan senyum dengan dahinya yang penuh keringat kepada kami…si Fulan ini kira-kira usianya 25 tahun menjelang 30 tahun..
Mengarah ke lampu merah jalan Laswi, kami bertemu seorang penjaja rokok, disitu aku beli setengah bungkus rokok kesukaanku.. aku berikan uang Lima Ribu Rupiah kepadanya… lalu diapun sibuk mencari kembalian untukku di kantung celananya dan masya ALLAH..tangan kanannya tidak ada sungguh hebat orang ini, tidak menjual ke”kurangan”nya. Si Fulan yang ini kira-kira usianya 40an.. otomatis aku bilang, “sudah pak, tidak usah, kembaliannya diambil saja..”.
Sore hari, menuju rumah kami di Antapani via lampu merah Ahmad Yani dari arah Kosambi, kami kembali bertemu si FUlan yang lain. Bertongkat dan seperti biasa dia tersenyum kepada kami… yang diakhiri dengan entah berbagai macam doa untuk keselamatan kami diucapkan si Fulan ini. Si Fulan yang ini kira-kira usianya 50 tahun lebih lah..
Sepanjang Cicadas dan Terusan jalan Jakarta, aku berbincang dengan istriku.. kami coba bandingkan ketiga Fulan itu yang pada akhirnya kami sadar betapa Bodohnya kami membandingkan mereka bertiga, mestinya kami bandingkan mereka bertiga dengan kami…
Lalu aku jadi teringat nasihat singkat Pak Muhammad Nuh (aku memanggilnya Pak Nu’ waktu itu) yang disiarkan di Radio SS Surabaya yang kami dengar waktu mudik yang lalu di surabaya..”Bercermin”…
Mundur lagi ke hari pernikahan kami, aku pun kembali teringat ucapan beliau kepadaku dalam khutbah nikah yang disampaikan beliau bagaimana aku harus menjaga segala “keberuntungan” yang telah Allah titipkan kepada ku..
Sungguh Bangsa Indonesia ini beruntung, memiliki mentri seperti Pak Nu’.
Aku masih ingat kata-kata awal nasihat pak Nu’ kepada ku dalam khutbah nikah kami oleh beliau dulu, awal tahun 2006… “tidak semua orang beruntung….”.
Terima kasih Pak Nu’, sudah menambahkan arti pada pernikahan kami. Aku yakin Pak Nu’ baik-baik saja saat ini…
Tri Basoeki S (Anto)
Teknik Kimia ITB, Angkatan 1997
Technorati Tags: muhammad-nuh, ITB, ITS, mentri, Indonesia, heritage