tribas

The Thoughts and Talks

Pidato Soekarno, 1965, Revolusi.

Posted by Tri Basoeki Soelisvichyanto on December 21, 2007


  Sumber:
  Penerbitan Chusus 389
  [TIDAK UNTUK DIDJUAL-BELIKAN]
  DEPARTEMEN PENERANGAN R.I
  P.N. Pertjetakan Negara R.I. Djakarta – 448/B ’65 (25.000 bk. P.C. 389)

  MARILAH KITA BERSAMA-SAMA MENJELAMATKAN REVOLUSI KITA !

  Amanat Presiden Sukarno dihadapan wakil-wakil Partai Politik
  di Guesthouse Istana, Djakarta, tanggal 27 Oktober 1965

==============
 
Bismillah, sidang saja buka.

Saudara-saudara,

 
Pada saat ini kita sekalian, seluruh bangsa Indonesia, seluruh negara
Indonesia, bahkan seluruh Revolusi Indonesia mengalami saát-saát jang
amat kritik. Jang saja maksudkan ialah sedjak terdjadinja peristiwa 30
September. Saudara-saudara mengetahuinja, bahwa saja, Presiden,
dihadapkan kepada tugas mengatasi, membereskan segala akibat-akibat
daripada peristiwa 30 September itu.

  Saudara-saudara
telah mengetahui dan oleh kerenanja tidak perlu lagi saja sebutkan
disini segala kedjadian-kedjadian jang terdjadi diantara 30 September
itu sampai hari sekarang. Semua Saudara-saudara telah mengikuti
kedjadian-kedjadian itu. Dan Saudara mengetahui, bahwa sajapun
ditempatkan kepada bermatjam-matjam desakan.. Desakan, desakan dari
beberapa golongan, desakan daripada sebagian daripada Rakjat, djuga
desakan-desakan daripada tugas-kewadjiban saja sebagai putjuk daripada
negara. Desakan-desakan itu saudara semuanja sudah mengetahui,
karenanjapun saja tidak akan sebutkan kepada Saudara-saudara desakan
apa.

  Saudara-saudara semuanja telah mengetahui sikap
saja, bahkan mengetahui komando-komando jang telah saja perintahkan
sedjak terdjadinja 30 September itu, jang pada pokoknja ialah bahwa
Insja Allah saja akan mengambil tindakan-tindakan untuk mengatasi
segala akibat-akibat daripada kedjadian 30 September itu. Baik,
tindakan-tindakan dilapangan hukum, maupun tindakan-tindakan jang
mengenai penjelesaian daripada segala sesuatu jang bersangkutan dengan
30 September. Pokok-pokok inti komando saja jang pertama ialah bahwa
saja menghendaki ketenangan. Dan didalam suasana ketenangan itulah saja
dapat kemudian mendjalankan tugas saja sebagai hakim tertinggi dan
sebagai penjelamat negara dan Revolusi. Komando saja untuk ditjiptakan
selekas mungkin  ketenangan kadang-kadang kurang diperhatikan orang,
sehingga ketenangan jang saja kehendaki itu sampai pada saát sekarang
ini belum terlaksana.

  Sudah saja katakan pada umum,
bahwa saja tidak membenarkan kedjadian 30 September itu dan bahwa saja
akan menghukum siapapun jang pembuat daripada kedjadian 30 September
itu. Tetapi agar supaja saja bisa bertindak tepat maka saja komandokan
ketenangan. Didalam ketenangan itu akan saja kumpulkan semua
fakta-fakata mengenai 30 September itu, agar supaja nanti saja bisa
bertindak sebagai hakim tertinggi dan agar supaja saja bisa mengadakan
penjelesaian daripada peristiwa ini. Jang saja maksudkan ialah
penjelesaian politik, oleh karena menurut kejakinan saja kedjadian 30
September bukan sekedar kedjadian 30 September, tetapi adalah suatu
kedjadian politik didalam Revolusi kita.

  Saja mendapat
kesan, bahwa sebagian daripada bangsa kita dalam amarahnja terhadap
kepada orang-orang jang mendjalankan 30 September itu melupakan
keselamatan negara kita dan keselamatan Revolusi kita. Terlalu sebagian
daripada bangsa kita itu alam fikirannja, perasaan-perasaannja,
dikonsentrirkan hanja kepada kedjadian 30 September tok. Dan djikalau
kita berbuat, berpikir, bersikap demikian, kita kadang-kadang melupakan
keselamatan negara dan keselamatan Revolusi.

  Saja
mendapat kesan, bahwa sebagian daripada bangsa kita ini bersikap
sebagai berikut: Kita ini mempunjai rumah, didalam rumah kita itu kita
mempunjai kuweh besar, katakanlah kuweh spekkoek atau kuweh talam.
Kuweh spekkoek atau kuweh talam atau kuweh getuk. Kuweh ini pada satu
saát digrogoti atau dimakan oleh tikus, oleh segerombolan tikus.
Kemudian kita sudah barang tentu marah kepada tikus ini, dan kita mau
sedikitnja menangkap tikus ini, kalau bisa malahan membunuh tikus ini.
Tetapi dalam usaha kita untuk menangkap tikus ini atau membunuh tikus
ini kita berbuat satu keslahan besar. Jaitu ada golongan-golongan jang
mau membakar rumah ini sama sekali. Mau menangkap tikus atau mau
membunuh tikus, seluruh rumahnja dibakar. Nah ini sudah njata satu
sikap jang salah sekali. Kita dalam hendak menangkap tikus itu harus
tetap menjelamatkan rumah, djangan kita merusak rumah, djangan kita
membakar rumah ini. Inilah tamsil jang saja pakai untuk menggambarkan
suasana dan
 kedjadian-kedjadian dikalangan rakjat jang Saudara-saudara pimpin sesudah 30 September itu.

 
Oleh karena itu maka saja kumpulkan Saudara-saudara pada hari
ini…Marilah kita bersama-sama menjelamatkan rumah ini! Marilah kita
djangan membakar-bakar rumah kita ini! Wadjarnja, marilah kita
bersama-sama menjelamatkan negara kita ini! dan marilah kita
bersama-sama menjelamatkan Revolusi kita ini!  Djangan kita dalam kita
hendak menangkap tikus itu membakar negara sendiri dan menjelewengkan
Revolusi kita sendiri. Itulah keprihatinan saja diwaktu-waktu jang
belakangan ini.

  Dikalangan rakjat banjak sekali
orang-orang jang hanja memikirkan tikus sadja.. Memikirkan hendak
menangkap tikus itu sadja, tetapi tidak memperhatikan keselamatan rumah
kita, negara kita, Revolusi kita. Tadinja — dan bukan sadja tadinja,
tetapi sampai sekarangpun dan Insja Allah seterusnja — maka saja
sendiri baik sebagai politikus, maupun sebagai Panglima Tertinggi,
maupun sebagai Pemimpin Besar Revolusi, saja lebih mengutamakan jang
ini: Negara dan Revolusi.

  Kedjadian 30 September itu
adalah satu kedjadian  jang salah sekali  dan harus dikoreksi. Tetapi
kedjadian itu “is er al geweest”. “Is er al geweest” artinja sudah
terdjadi dan kita sekarang harus bertindak agar supaja negara kita dan
Revolusi kita tetap selamat dalam kita mendjalankan tindakan pula untuk
menghukum kedjadian jang “is al geweest” itu tadi, malahan bagi saja,
untuk dapat menghukum kedjadian “is al geweest” itu sebagai satu orang
jang bidjaksana, demikianlah streven saja. Saja akan dipersalahkan oleh
Tuhan dan sedjarah, djikalau saja tidak bidjaksana.

  Tadi
misalnja saja didatangi oleh utusan-utusan dari Nahdatul Ulama dan dari
Muhammadijah, jang saja mengutjap terima-kasih kepada mereka, bahwa
mereka itu memperingatkan kepada saja akan firman Tuhan. Firman Tuhan
jang berbunji: tiap-tiap kita ini adalah pemimpin. ada jang pemimpin
negara, ada jang pemimpin famili, ada jang pemimpin sekolah, ada jang
pemimpin kebun, ada jang pemimpin ini, ada jang pemimpin itu. Djadi
tiap-tiap kita ini adalah pemimpin dan tiap-tiap kita ini nanti
diachirat akan dilandrad oleh Tuhan tentang kepemimpinan kita. Saja
akan dilandrad tentang kepemimpinan saja. Ali akan dilandrad tentang
kepemimpinannja. Chaerul akan dilandrad tentang kepemimpinan Chaerul.
Suharto akan dilandrad tentang kepemimpinannja. Kita semuanja akan
dilandrad tentang kepemimpinan kita.

  Oleh karena itu,
jang memang itulah pendirian saja sedjak sebelum saja tadi
diperingatkan oleh Nahdatul Ulama dan Muhammadiajah, saja selalu
berhati-hati. Saja selalu mau bidjaksana. Saja tidak mau gegabah.
Karena itu saja minta ketenangan. Dan didalam ketenangan itu saja akan
selidiki dan peladjari sdalam-dalamnja segala fakta-fakta jang
bersangkutan dengan 30 September ini. Fakta-fakta sebelumnja,
fakta-fakta pada 30 September sendiri dan mengenai 30 September
sendiri, fakta-fakta sesudahnja. Itu jang saja namakan proloog daripada
30 September, kemudian fakta 30 September itu sendiri, kemudian naloog
atau epiloog daripada 30 September itu. Proloognja, het feit op zich
zelfnja, dan naloog atau epoloognja daripada 30 September itu. Dan itu
sedang saja selidiki, sedang saja peladjari. Dan saja hanja mungkin
mendapat fakta-fakta dalam penjelidikan itu setjermat-thermatmja,
djikalau keadaan tenang dan djikalau kita tidak membuat keadaan itu
tidak tenang dengan tjara
 membakar-bakar sentimen, membakar-bakar emosi.

 
Saja sebagai Pemimpin Besar Revolusi, terutama sekali sebagai Pemimpin
Besar revolusi, amat sedih dengan terdjadinja 30 September ini, sebab
het feit 30 September op zich zelf adalah satu kedjadian, adalah satu
perbuatan, adalah satu hal jang amat merugikan kepada Revolusi.
Ketambahan pula didalam melihat epiloog, naloog daripada kedjadian 30
September ini, saja tambah sedih lagi.

  Het feit 30
September op zich zelf sudah membuat saja sedih naloog atau epiloog
daripada 30 September ini membuat saja lebih sedih lagi. Sebab apa ?
Sebabnja ialah, bahwa ada golongan-golongan dikalangan Rakjat kita ini
jang hanja memikirkan sitikus itu tadi, hendak menumpas sitikus itu
tadi dan melupakan keselamatan negara dan Revolusi. Terutama sekali
mengenai Revolusi kita. Dengan sedih saja melihat, bahwa Revolusi kita
jang telah beberapa kali saja katakan, bahwa Revolusi kita adalah
Revolusi kiri. Kiri karena apa ? Pantjasila op zich zelf is al kiri !
Apalagi djikalau kita memperhatikan Sila kelima daripada Pantjasila:
Keadilan Sosial. Maka dengan tegas dan djelas saja katakan, bahwa
Revolusi kita adalah revolusi kiri. Tetapi saja melihat sebagai epiloog
daripada kedjadian 30 September itu, kalau kita tidak waspada, Revolusi
ini menggeser kekanan. Dan djikalau Revolusi kita ini menggeser
kekanan, maka saja berkata itulah malapetaka, jang besar
sebesar-besarnja, lebih
 besar daripada kedjadian 30 September sendiri.

 
Karena itu saja memanggil Saudara-saudara, pemimpin-pemimpin daripada
Rakjat Indonesia ini. Mari kita bersama-sama menjelamatkan kita-punja
negara! Mari kita bersama-sama menjelamatkan Revolusi kita ! Mari kita
bersama-sama mendjaga djangan Revolusi kita ini menggeser kekanan. Mari
kita bersama-sama menetapkan Revolusi kita itu Revolusi kiri.

 
Didalam pidato saja kepada Pantja Tunggal seluruh Indonesia jang saja
kumpulkan di Istana Negara beberapa hari jang lalu, saja telah
djelaskan, bahwa sebagaimana biasa, sebagaimana biasa, bukan hanja di
Indonesia, tetapi seluruh dunia, sesuatu kedjadian jang hebat
membangunkan sentimenten, sentimenten pro, sentimenten tegen. Manusia
adalah machluk jang mempunjai sentimen. Karena itu dimanapun, didjaman
apapun, tiap-tiap kedjadian hebat disesuatu masjarakat membangunkan
dimasjarakat itu sentimenten jang meluap-luap, sentimenten pro,
sentimenten tegen. Dan djuga, Saudara-saudara, saja katakan didalam
pidato saja terhadap Pantja Tunggal itu jang masing-masing Saudara
mendapat bukunja, risalahnja, selalu orang, ada orang, ada golongan
jang menunggangi kedjadian itu. Menunggangi untuk kepentingan pribadi,
menunggangi untuk kepentingan golongan, menunggangi untuk kepentingan
ideologi misalnja, Saudara-saudara, dan ini adalah satu hal jang
normal. Bahkan boleh saja katakan satu
 hal jang baik, bahwa
sekarang ini boleh dikatakan tiap-tiap orang memveroordeel 30 September
itu. Tapi tjelakanja ialah bahwa veroordelen 30 September ini sering
dipertunggangkan kepada kepentingan diri sendiri atau kepentingan
golongannja atau kepentingan ideologi.

  Tjontoh jang saja
sebutkan didalam pidato saja pada Panja Tunggal itu, bahwa orang
menunggangi kedjadian ini untuk kepentingan diri sendiri, saja mengenal
satu perusahaan besar, jang oleh karena perusahaan itu adalah
perusahaan negara, maka Presiden Direkturnja ditetapkan atau diangkat
oleh Pemerintah. Didalam perusahaan itu jang Presiden Direkturnja sudah
ditetapkan atau diangkat oleh Pemerintah, ada orang lain jang
sebenarnja dia ingin sekali mendjadi Presiden Direktur daripada
perusahaan itu. Banjak terdjadi . Zo’n abnormaal geval is het niet.
Tetapi begitu 30 September terdjadi , begitu tiap-tiap orang mengatakan
, 30 September adalah perbuatan jang djahat, begitu keluar dengan
pernjataan-pernjataan, seorang jang ingin mendjadi Presiden Direktur
ini terus sadja melantjarkan tuduhan kepada Presiden Direktur jang
sudah ada ini, bahwa dia tersangkut, bahwa dia dus harus dienjahkan
sedikitnja, atau kalau bisa ja didjebloskan dalam pendjara. Ini adalah
satu geval jang saja
 sendiri harus membereskan. Saja tahu, ini
sebagai satu tjontoh bagi Saudara-saudara, penunggangan kedjadian 30
September untuk persoonlijk gewin atau persoonlijk belang.

 
Bahkan saja tahu satu kedjadian jang lebih lutju lagi, djuga satu
perusahaan. Disitu ada dua orang jang bertentangan satu sama-lain.
Pertentangannja itu apa? Si A dan si B ini bertentangan satu sama-lain
didalam pimpinan daripada perusahaan ini oleh karena patjar si A ini is
overgelopen naar B. Djadi A dan B sebetulnja rebutan awéwé. Begitu 30
September ini terdjadi, si A jang kehilangan patjar itu mengadakan
mengadakan pengaduan bahwa si B tersangkut 30 September. Satu tjontoh
penunggangan lagi.

  Apalagi dadalam kalangan
golongan-golongan atau didalam kalangan politik. Wat is politiek?
Politiek is een ideeënstrijd. Nah, didalam ideeënstrijd ini saja
melihat gedjala-gedjala bahwa orang — untuk memenangkan ideenja –
menunggangi kedjadian 30 September, dengan akibat jang amat merugikan
pada negara ini. Karena itu saja selalu dari mulanja selalu berkata,
djanganlah kita membakar-bakar sentimen, djanganlah kita membakar-bakar
emoties. Saja minta ketenangan, ketenangan, ketenangan, ketenangan dan
didalam ketenangan itu saja kumpulkan semua fakta-fakta, proloog, het
feit op zich zelf, epiloog, dan Insja Allah sesudah daripada itu saja
bisa mengadakan pendjelasan politik.

  Dan sekarang saja
mengundang Saudara-saudara, Pemimpin-pemimpin dari partai-partai, untuk
membantu saja didalam hal ini, sebab Saudara-saudara bertanggung-djawab
kepada partai-partai Saudara-saudara, ‘tetapi lebih daripada itu’
Saudara-saudara bertanggung-djawab kepada keselamatan Negara dan
keselamatan Revolusi. Negara kita harus tetap tegak-kuat, terutama
sekali manakala kita sekarang ini berhadap-hadapan dengan nekolim,
terutama sekali manakala kita sekarang ini sedang mendjalankan
konfrontasi, jang konfrontasi itu betul-betul adalah satu vivere
pericoloso. Kita harus djaga djangan negara ini mendjadi retak atau
mendjadi lemah atau mendjadi kurang kuat. Dan kekuatan negara mutlak
tergantung daripada kesatuan antara kita dengan kita.

 
Untuk itulah, Saudara-saudara, agar supaja negara kita ini kuat dan
agar supaja Revolusi ini berdjalan lantjar, saja sedjak tahun ’26 telah
lanceren idee Nasakom. Tatkala saja masih pemuda, umur 25 tahun, saja
telah menulis artikelenreeks saja jang sekarang termasjur, tertjetak
dalam kitab “Dibawah Bendera Revolusi”, jang pokoknja adalah Nasakom.
Tetapi, Saudara-saudara, sebagai epiloog daripda kedjadian 30 September
ini saja melihat bahwa Nasakom itu terantjam bahaja. Tetapi sjukur
Alhamdulillah, sesudah saja memberi penerangan, bahaja petjahnja
Nasakom ini sudah berkurang, jaitu tatkala saja memberi penerangan
bahwa Nas itu tidak berarti Ali Sastroamidjojo atau P.N.I, atau
Asmarahadi atau Partindo, A itu tidak berarti Idham Chalid atau
Nahdatul Ulama, atau Frans Seda atau Partai Katolik, atau Badawi atau
Muhammadijah, atau Jo Leimena atau Parkindo, dan bahwa Kom itu tidak
berarti Aidit atau P.K.I.. Nas dan A dan Kom, ketiga-tiganja adalah
roman-muka realitas daripada
 Revolusi kita ini.

 
Revolusi kita jang kita namakan revolusi pantjamuka — revolusi
nasional, revolusi politik, revolusi ekonomi, revolusi sosial, revolusi
kultur, bahkan revolusi pembangunan manusia baru Indonesia — Revolusi
ini tidak bisa lain daripada beroman-muka Nas dan A dan Kom. Revolusi
nasional tidak bisa berdjalan dan tidak bisa ada sebagai revolusi
nasional tanpa rasa-rasa nasionalisme. Revolusi kultur dalam arti bukan
sadja kultur jang berkepribadian, tetapi dalam arti keigamaan, sebab
igama adalah sebagian daripada kultur, tak mungkin ada djikalau tidak
ada A. Ikut sertanja A didalam Revolusi kita itu adalah satu realitas
dan satu Notwendigheid, oleh karena Revolusi kita menghendaki kultur
baru, kultur dalam arti jang seluas-luasnja, jaitu mengenai agama
djuga. Demikian pula Revolusi kita ini, sebagai hasil kebangkitan
daripada rakjat jang tertindas perutnja, rakjat jang tertindas
kehidupan materiil sehari-harinja, tidak bisa lain daripada satu
revolusi jang mempunjai
 socialistische aspiraties.  Revolusi
kita bukan satu revolusi burgerlijk, tidak , Revolusi kita adalah
revolusi rakjat jang perutnja tertindas, revolusi rakjat jang
materiilnja tertindas. Dan rakjat jang perutnja tertindas, materiilnja
tertindas, tidak bisa lain daripada mempunjai, berangan-angan
sosialisme. Ingin perutnja penuh, ingin materieele verhoudingennja
lajak. Dus Kom atau Marxisme atau Sosialisme adalah satu unsur
roman-muka-riil daripada Revolusi kita ini.

  Oleh karena
itu, als geheel genomen, saja berkata, Revolusi kita ini adalah
revolusi kiri. Tetapi dengan sedih saja melihat, sekarang ini ada
gedjala-gedjala penggeseran Revolusi kita ini kearah kanan dan sebagai
kukatakan tadi, djikalau penggeseran ini berlangsung terus, itu adalah
satu malapetaka jang terbesar, bagi bangsa Indonesia.

 
Saudara-saudara sebagai pemimpin daripada Rakjat Indonesia, pemimpin
dari partai-partai Indonesia, saja undang Saudara-saudara untuk
mendjaga djangan Revolusi kita ini verrechtst atau verrechtsen, djangan
revolusi kita ini mendjadi satu revolusi jang tidak mentjerminkan
Amanat Penderitaan Rakjat.

  Nou, sesudah saja memberi
keterangan ini, Saudara-saudara, sedjak beberapa hari jang lalu saja
melihat, nou beginnen de meesten het een beetje te snappen. Ketenangan
sudah mulai, mulai terdjadi, tetapi belum seluruhnja, malahan
dibeberapa aspek menjala-njala kekatjauan.

  Tjoba,
Saudara-saudara, apa kata Saudara-saudara tentang kedjadian-kedjadian
di Djawa Timur, di Djawa tengah, mengenai pembakaran-pembakaran?
Misalnja — saja bilang misalnja oleh karena tidak hanja mereka jang
kena — misalnja orang-orang Tionghoa. Entah siapa jang dari Djawa
Timur. Saja dapat laporan, misalnja dari Surabaja sampai ke Banjuwangi
– dat is me nog al een afstand, saudara-saudara — dibeberapa tempat
terdjadi rasialisme, malah agak setjara overdreven Panglima Safiudin
dari bali berkata: Pak, antara Surabaja dan Banjuwanmgi dimana-mana
plat gebrand. Saja tadi berkata, ini rupanja ja sedikit overdreven,
tetapi sedikitnja benar bahwa antara Banjuwangi dan Surabaja itu
dibebearapa tempat, dibanjak tempat terdjadi rasialisme.

 
Apa jang Saudara katakan, tentang kedjadian di Sala? Siapa dari Sala,
saja tidak tahu. Djendral harto sendiri, Achmadi, Muljono Herlambang.
Kalau Achmadi itu sudah mendjadi orang Tjibulan….. Tjoba di Sala,
Saudara-saudara, apa jang terdjadi beberapa hari jang lalu?
Verschrikkelijk, rasialisme berkobar-kobar disana dan apa jang
dinamakan wraak op muizen, verschrikkelijk.

  Nah, karena
itu saja minta kepada Saudara-saudara, apa jang saja katakan kepada
Menteri-menteri, dan kepada semua Pantja Tunggal, saja ulangi padamu:
Pemimpin-pemimpin partai, verlies je kop niet, verlies je kluts niet,
tetaplah djaga keselamatan negara dan keselamatan Revolusi! Segala
usaha daripada nekolim dan C.I.A. harus kita awasi, Saudara-saudara,
sebab nekolim dan C.I.A. is daarom nekolim en C.I.A. Artinja, kalau
mereka tidak berusaha untuk menghantjurkan kita, merugikan kita,
memetjahkan kita, bukan nekolim, bukan C.I.A. Awas, Saudara-saudara,
awas, djangan kitapun ditunggangi oleh nekolim atau C.I.A. ini. Dan
saja berkata kepada Saudara-saudara, mereka itu begitu lihaynja
sehingga kalau umpamanja, kita ini ditunggangi, dat wij niet eens
voelen, bahwa kita ini ditunggangi. Tjara menungganginja itu bukan main
lihaynja. Saudara-saudara, mereka mempunjai pengalaman puluhan tahun
tentang hal ini. Sedikitnja kalau kita tidak sedar ditunggangi, kita
ini er fijn
 ingelopen. Nah itu, perkataan je bent er in gelopen.

 
Nah ini kita mesti djaga, djangan kita er in lopen, djangan kita
ditunggangi. Paling berbahaja itu, kita ditunggangi tanpa kta merasa
dan mengetahui bahwa kita ditunggangi. Batja kitab-kitab jang
memebeberkan segala rahasia nekolim, batja “The Invisible Government”,
batja “C.I.A.” tulisan Andrew Tulley, batja “The Ambassador” tulisan
Maurice West. O, disitu kelihatan betul kelihayan mereka itu. Dan kita
sebagai pemimpin Rakjat, Saudara-saudara, kita harus hati-hati dan
waspada sekali. Sekarang Bandrio ini misalnja, o God, o God, o God, dia
sekarang sudahlah, dikatakan ini dikatakan itu oleh nekolim. Saja bisa
kata ini, oleh karena saja bergaul, bertemu dengan
ambassador-ambassador di Djakarta ini. Tidak sedikit ambassador datang
kepada saja, apakah benar Presiden, is it true that you are going to
dismiss Subandrio? Bahwa Tuan akan melepas Subandrio? Malahan ada jang
berkata, Roeslan; that you are going to dismiss and make Roeslan
Abdulgani Foreign Minister? Apa sebab?
 Oleh karena nekolim
memang sering mendapat tentangan dari dia, boleh dikatakan djarang ada
Menteri Luar negeri didunia ini lho jang begitu gigih menentang
nekolim, sebagai kita-punja Menteri  Luar negeri Subandrio. Nah, sudah
barang tentu, nekolim wenst hem er uit, nekolim mengatakan segala
sesuatu jang tidak baik tentang Subandrio.

  pendek kata,
Saudara-saudara, saja minta kepada Sudara-saudara, marilah kita
semuanja merasa bertanggung-djawab kepada negara dan kepada Revolusi.
Saja telah berkata, saja minta ketenangan, saja kumpulkan semua
fakta-fakta proloog, het feit op zich zelf, epiloog atau naloog, dan
Insja Allah, djikalau Tuhan memberi kepada saja, saja adakan nanti
tindakan berdasarkan atas penjelidikan jang objectif dan njata ini.

 
Saja harap, Saudara-saudara semuanjapun berdiri tegak dibelakang saja.
Apa sebab? Saudara-saudara sendiri menulis didalam pernjataan
Saudara-saudara, berdiri tegak dibelakang Pemimpin Besar Revolusi,
setia kepada Pemimpin Besar Revolusi. Wel, saja sekarang nagih kepada
Saudara-saudara, kalau Saudara-saudara benar-benar berdiri dibelakang
saja, taát kepada saja, setia kapada saja, djalankan perintah saja.
Bukan sadja itu, djangan djegal perintah saja. Sebab saja di Pantja
Tunggal seluruh Indonesia djuga sudah berkata dengan tegas,
kadang-kadang saja ini mendapat indruk, kesan, ja orang berkata: Bung
Karno, Bung Karno, setia kepada Bung Karno, berdiri dibelakang Bung
Karno, tetapi perintah Bung Karno, komando Bung Karno dikentuti,
kataku. Ja, perkataan kentut itu sampai-sampai Presiden mau tjoret
daripada buku ini.

  Saja minta Saudara-saudara
betul-betul berdiri dibelakang saja, oleh karena Saudara-saudara
mengangkat saja sebagai Pimpin Besar revolusi, oleh karena Saudaralah
jang mengangkat saja via M.P.R.S. mendjadi Presiden seumur hidup, oleh
karena Saudara-saudarapun menjatakan recently ini berdiri dibelakang
Bang Karno, setia kepada Bung Karno, saja nagih sekarang. Djalankan
komando saja, bantulah saja, djangan djegal kepada saja. Semua komando
saja, djalankan!

  Saudara-saudara, dan sebagai kalimat
terachir daripada uraian saja ini nanti, jang nanti akan saja minta
ditambah oleh anggota Presidium, saja ulangi, sajapun selalu takut
kepada hari kemudian, sajapun selalu in me zelf prenten: Sukarno,
engkau adalah pemimpin, sebagaimana semua orang pemimpin, nanti dihari
kemudian engkau akan dilandrad tentang kepemimpinannmu. Tentang hal
itu, Saudara-saudara, bolehlah Saudara-saudara jakin, saja tidak
gegabah, saja betul-betul takut kepada laatste oordeel itu nanti, takut
kepada landratan jang akan didjalankan atas diri saja di hari achirat.

===

sumber asli dari sini

Technorati Tags: , ,

4 Responses to “Pidato Soekarno, 1965, Revolusi.”

  1. Jeepers said

    wuehh bagus neh buat nambah ilmu pengetahuan khususnya sejarah
    *keep posting good job*

  2. tribas said

    he he he…

    kebetulan nemu, terserak diantara gemerlapnya dunia maya…

  3. fia said

    revolusi belum selesai!!
    itu kata bung karno..
    siapa yg akan meneruskan perjuangannya dan perjuangan pahlawan2 yg rela darahnya tertumpah di medan perang???
    siapa lg klo bkn kita!!

  4. ridha erwin pasulley said

    Tunduk tertindas ato bangkit melawan..! beliau menitipkan negri ini pada kita generasi muda..kalo tdk kita yg bangkit ? siapa lagi ,,?..beliau akan bersedih jika kita abaikan wasiatnya.dgn karna beliau menghilang,,karna sebenarnya beliau msh ada ditengah2 kita.selamat dtg bapak.. salam hormat kami selamat berjumpa dimasa yg akan dtg.amiiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: