Sahabat, saudara sebangsa setanah air
dimana berhimpun segala kekayaan alam sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.
Mencermati perkembangan internasional dalam beberapa masa kebelakang, dari persepektif energi saya mencoba melihat kedepan, yaitu kondisi Indonesia pada tahun 2012. Tentunya eksposur atas Indonesia pada tahun 2012 yang saya lakukan ini belum tentu menjadi sebuah kenyataan, mungkin ada banyak yang “meleset” namun bisa jadi ada yang “persis sama”. Apapun, saya bukan paranormal atau ahli nujum yang mencoba meramalkan bagaimana kondisi Indonesia pada tahun 2012, namun hanya sebuah pemikiran yang mungkin sebaiknya dijadikan kewaspadaan untuk kebaikan bersama.
Kira-kira, pada tahun 1997-an, krisis moneter mulai melanda Indonesia setelah carut marut konflik pendapat mengenai keberadaan IMF.
Kira-kira pada tahun 2005, harga minyak mentah dunia (World Crude Price) mulai beranjak naik, hingga pemerintah mengkalkulasi diperlukannya tambahan subsidi untuk Bahan Bakar Domestik. Kira-kira pada tahun 2006 pemerintah Indonesia mulai me-rekalkulasi pendapatan negara dan segera melakukan berbagai manuver penyelesaian hutang internasional.
Siapa sangka, pada tahun 2008-2009 krisis moneter kembali mengguncang, namun kali ini dimulai dengan melanda Amerika Serikat. Menurut pendapat banyak ahli, Indonesia termasuk salah satu negara yang mampu bertahan dalam gelombang krisis tersebut dengan berbagai istilah canggih dalam hal ekonomi diutarakan oleh banyak pihak. Dalam menyikapi hal ini, kita patut bersyukur atas pendapat hal tersebut.
Sayangnya saya tidak seoptimis pendapat banyak para ahli, saya bukan ahli namun saya mungkin sejalan dengan pemikiran beberapa ahli yang memikirkan adanya bahaya besar bagi perekonomian Indonesia pada tahun 2012.
Mari kita telaah satu-persatu.
2008, awal krisis di Amerika, bunga FED nyaris 0%, pengangguran semakin menjadi di Amerika, harga minyak mencapai 40 USD/Barel. Banyak negara mengucurkan dana talangan untuk perekonomiannya, Neraca Keuangan Negatif.
2009, Dubai yang dapat dikatakan sebagai centre bisnis middle east mulai terseok-seok, meminta reschedule hutang luar negerinya.
harga minyak sudah mencapai 65-70 USD/Barel, namun bunga FED masih disekitar 0-1%.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? apa hubungannya? 2010, 2011, 2012 belum diketahui nasibnya.
Ketika USA, Eropa, China, Jepang banyak mengeluarkan debvisanya untuk mempertahankan (stimulasi) ekonomi dalam negerinya, Indonesia justru bertahan.
Pada tahun ini ketika minyak duni mencapai 70-an USD/Barel, diduga ini adalah bukan harga asli minyak dunia (real price), tetapi karena adanya permainan para spekulan dalam pasar komoditas. mengapa demikian? karena perekonomian Amerika belum sepenuhnya pulih, sehingga jelas dana talangan Pemerintah Amerika kepada negaranya adalah sesungguhnya belum mengakibatkan harga minyak dunia menjadi seperti sekarang ini.
Bilamana kita dapat berasumsi, dengan menilik kemampuan para ahli strategi ekonomi Amerika, Eropa, China dan Jepang, diperkirakan pada tahun 2011 mereka baru akan benar-benar pulih.
Kita mungkin bertanya, “Lalu apa ngefeknya?”,
Jawabnya sederhana, ketika industri mereka mulai pulih, ekonomi mereka mulia pulih, maka daya serap mereka akan komoditas termasuk minyak mentah akan meningkat. Harga listed saat ini yang bernilai 70an USD/Barel akan sangat mungkin meningkat, menuju 90an USD/Barel. Sedangkan, perkenomian Indonesia saat ini masih belum stabil, terlabih ketika pemerintahan baru (2009-2014) masih belum benar-benar settle… dikhawatirkan pada tahun 2012, ketika harga komoditas melonjak tinggi, maka kita sudah tertinggal. saat itu, Industri-industri kita akan sangat rusak karena kekurangan modal akibat biaya tinggi, masyarakat belum atau tidak memiliki daya beli yang cukup, jumlah penduduk miskin meningkat…dan seterusnya…
Bisa kita bayangkan bilamana kondisi saat ini tidak segera diformulasikan suatu strategi yang baik oleh Pemerintah untuk menghadapi 2012. Nostradamus mungkin tidak benar ketika meramalkan 2012 bahwa dunia akan kiamat, tetapi negeri ini sangat rentan untuk menghadapi kondisi yang sangat buruk.
“Sedia payung sebelum hujan…” mungkin itu solusinya? apapun isi dari payung tersebut…
Sekali lagi, ini hanya supaya kita waspada, kemungkinan ini selalu ada, yang sebaliknya pun (kemungkinan yang baik) tetap ada.
Sore tadi saya mencoba merenung..” Kalaupun saya punya salah satu payungnya, tetapi siapa yang akan percaya dengan saya? saya khan bukan ahlinya, saya hanya anak kemarin sore dimata banyak orang”
Technorati Tags: 2012, bisnis, crude-price, 2008, 2009, 2010, 2011, sedia-payung-sebelum-hujan, srtategi-ekonomi, trade-balance, sectoral-setting






